Dari Ramadhan ke Ramadhan jua
Begini-begini saja
Sampai ku putus asa
Gusti, kenapa begitu susahnya?
Katanya setan diikat
Berkah dijanjikan berlipat
Tapi kenapa diri tak kunjung kembali bertaubat?
Rupanya nafsu sumber segala rancu
Menelikung aku setiap waktu
Putus asaku pada diriku
Nyatanya aku cuma takluk pada diriku
Yang tak henti mengkhianati hatiku
Maka kali ini Tuhanku, ku berdoa lagi
Tak henti-henti welas asih-Mu senantiasa asaku
La takilni ila nafsi
Jangan Kau serahkan diri hamba pada hamba
Meski hanya sekedip mata
Aku nyata-nyata tanpa daya
Tak tahu aku sampai kapan hayatku masih tinggal di badan [01:36]
Jangan-jangan tak sampai Ramadhan tahun depan
Lalu bagaimana aku bisa melewati araian?
Tolonglah, tolong aku Tuanku
Tinggal kedermawanan-Mu harapanku
Meski aku tahu tak pantas aku menerima itu
Tapi bukankah Kau Sang Welas Asih tetap saja mencintaiku?
Meski aku membangkang melulu
Agar jangan sampai ku harus berseru nanti:
“Ya laitani kuntu turaba”
Kalau saja dulu aku hanya sebutir debu
Sapa aku dengan api cinta-Mu
Untuk membakar hati biar rindu
Terus menggebu, mengharu biru
Dalam pelukan-Mu, dalam kasih-Mu, dalam cinta-Mu
Jangan Kau serahkan diri hamba pada hamba yang rentan dan fakir
Meski hanya sekejap mata
Aku nyata-nyata tanpa daya
La takilni ila nafsi
Jangan Kau serahkan diri hamba pada hamba
Meski hanya sekejap mata
Aku nyata-nyata tanpa daya
Ku berdoa lagi
Tak henti-henti welas asih-Mu senantiasa asaku


